Berita , Kehutanan

Bencana Hidrometeorologi Sumatra Akhir November 2025 dan Implikasi Sosio-Ekologis

C: Picture by Wolfgang Hasselmann (Unsplash)

1. Pendahuluan: Sebuah Tragedi di Penghujung Tahun

Pada akhir November 2025, Pulau Sumatra, yang sering dijuluki sebagai Swarnadwipa atau Pulau Emas karena kekayaan alamnya, berubah menjadi lanskap kehancuran yang memilukan. Serangkaian bencana hidrometeorologi, yang mencakup banjir bandang (flash floods) dan tanah longsor dalam skala masif, menghantam tiga provinsi sekaligus: Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat. Peristiwa ini bukan sekadar anomali cuaca; ini adalah manifestasi dari krisis lingkungan yang telah lama berakumulasi, diperparah oleh dinamika atmosfer yang ekstrem.

Laporan ini menyajikan analisis komprehensif mengenai katastrofe tersebut, menggali dampak humanis yang mendalam terhadap masyarakat lokal, menghitung kerugian ekonomi yang melumpuhkan, serta meninjau ulang tata kelola lingkungan hidup. Dalam konteks ini, urgensi peran profesional Konsultan Lingkungan dan penerapan dokumen AMDAL (Analisis Mengenai Dampak Lingkungan) yang rigor menjadi sorotan utama. Kami juga akan mengintegrasikan profil PT Karsa Buana Lestari sebagai studi kasus mengenai standar kompetensi yang diperlukan untuk memitigasi risiko bencana di masa depan melalui perencanaan pembangunan yang berkelanjutan.

Data yang disajikan dalam laporan ini bersumber dari rilis resmi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), laporan situasi lapangan, serta analisis dari berbagai lembaga lingkungan hidup dan meteorologi yang relevan hingga pemutakhiran data terakhir pada 1 Desember 2025.

2. Dinamika Meteorologis dan Pemicu Bencana

2.1 Anomali Siklon Tropis Senyar

Bencana ini tidak terjadi dalam ruang hampa. Analisis meteorologis menunjukkan adanya interaksi kompleks di atmosfer yang memicu curah hujan ekstrem. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengidentifikasi terbentuknya Siklon Tropis Senyar yang berevolusi dari Bibit Siklon 95B di Samudra Hindia. Fenomena ini menarik massa udara basah dalam volume luar biasa besar ke arah daratan Sumatra.

Siklon ini menciptakan apa yang disebut sebagai atmospheric river atau sungai atmosfer, yang menumpahkan air hujan secara terus-menerus selama lebih dari 72 jam di sepanjang punggung pegunungan Bukit Barisan. Curah hujan dengan intensitas tinggi ini jauh melampaui kapasitas infiltrasi tanah dan kapasitas tampung sungai-sungai utama di wilayah tersebut.

 

2.2 Kondisi Geologi dan Kerentanan Wilayah

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memberikan perspektif geologis mengenai bencana ini. Wilayah yang terdampak, khususnya di Tapanuli dan Agam, memiliki karakteristik topografi dengan kelerengan curam dan didominasi oleh litologi batuan yang rapuh serta tanah pelapukan tebal yang jenuh air.

Kombinasi antara:

  1. Pemicu Eksternal: Hujan ekstrem akibat siklon tropis.
  2. Kondisi Internal: Geologi yang labil dan kelerengan curam.
  3. Faktor Antropogenik: Degradasi tutupan lahan (yang akan dibahas lebih lanjut pada Bab 5).

Ketiga faktor ini menciptakan “badai sempurna” yang memicu likuifaksi parsial, aliran bahan rombakan (debris flow), dan banjir bandang yang menyapu segala yang ada di jalurnya.

3. Dampak Kemanusiaan: Statistik Kematian dan Kisah Pilu

Di balik angka-angka statistik, terdapat nyawa manusia, harapan yang pupus, dan struktur keluarga yang hancur. Skala kematian akibat bencana ini sangat mengejutkan dan menjadi salah satu yang terburuk dalam sejarah modern kebencanaan di Sumatra.

 

3.1 Analisis Mortalitas dan Orang Hilang

Hingga laporan terakhir pada 30 November 2025, BNPB mengonfirmasi total korban jiwa mencapai 442 orang, dengan 402 orang lainnya masih dinyatakan hilang. Angka ini mencerminkan kegagalan sistemik dalam perlindungan masyarakat dari ancaman hidrometeorologi.

Tabel 1. Rincian Korban Jiwa dan Hilang Berdasarkan Provinsi (Per 30 November 2025)

Provinsi Meninggal Dunia Hilang Wilayah Terdampak Terparah
Sumatra Utara 217 209 Kab. Tapanuli Selatan, Tapanuli Tengah, Tapanuli Utara, Kota Sibolga, Deli Serdang.
Sumatra Barat 129 118 Kab. Agam (Kec. Palembayan, Malalak), Tanah Datar, Padang Pariaman.
Aceh 96 75 Wilayah timur Aceh, Kota Langsa, Aceh Tamiang.
TOTAL 442 402 Data merupakan akumulasi lintas provinsi.

 

3.2 Narasi Humanis dari Garis Depan

Statistik di atas tidak mampu menangkap kengerian yang dirasakan individu di lapangan. Berikut adalah beberapa kisah yang menggambarkan perjuangan hidup dan mati masyarakat lokal:

Kisah Wali Kota Sibolga: Bertahan Hidup di Tengah Isolasi

Salah satu kisah paling dramatis datang dari Akhmad Syukri Penarik, Wali Kota Sibolga. Di tengah kekacauan, ia sempat dilaporkan hilang kontak saat melakukan perjalanan dinas. Ternyata, ia terjebak di antara titik-titik longsor di jalur lintas Sumatra yang membelah bukit barisan.

Karena akses kendaraan tertutup total oleh material tanah dan bebatuan raksasa, Syukri harus mengambil keputusan berisiko tinggi: berjalan kaki menembus medan bencana. Selama empat hari, ia berjalan kaki melintasi hutan dan sisa-sisa longsoran untuk mencapai tempat aman. Ketika ditemukan oleh tim SAR, kondisinya fisik lelah namun stabil. Kisah ini menjadi simbol ketangguhan sekaligus keputusasaan, di mana seorang pejabat publik pun tidak luput dari kelumpuhan total infrastruktur akibat bencana.

 

Tragedi Michael Siahaan: Panggilan Terakhir

Di sisi lain spektrum nasib, terdapat kisah tragis keluarga Michael Siahaan. Michael, yang merantau ke Jakarta, melakukan panggilan telepon terakhir dengan ibunya di Kecamatan Pandan, Tapanuli Tengah, pada pagi hari tanggal 25 November. Ibunya melaporkan bahwa air sungai di belakang rumah mereka yang biasanya tenang telah meluap dengan debit yang mengerikan.

Percakapan terputus saat air mulai memasuki rumah setinggi dada orang dewasa. Sejak saat itu, komunikasi putus total. Michael hanya bisa menghubungi BPBD dan Basarnas dari kejauhan, menanti kabar yang tak kunjung pasti. Kisah Michael adalah representasi dari ribuan perantau asal Sumatra yang harus menghadapi kenyataan pahit kehilangan keluarga tanpa sempat mengucapkan selamat tinggal, diperparah oleh putusnya jaringan komunikasi di wilayah bencana.

 

Trauma Kolektif Pengungsi

Ribuan warga yang selamat kini memenuhi posko-posko pengungsian. Di Sumatra Barat saja, tercatat lebih dari 11.820 Kepala Keluarga (KK) atau sekitar 77.918 jiwa terpaksa meninggalkan rumah mereka. Mereka hidup dalam kondisi penuh ketidakpastian. Di posko pengungsian, cerita tentang “galodo” (banjir bandang) yang membawa gelondongan kayu besar menghantui ingatan para penyintas, menciptakan trauma psikologis mendalam yang membutuhkan intervensi jangka panjang.

4. Kehancuran Infrastruktur dan Kerugian Ekonomi

Dampak ekonomi dari banjir dan longsor ini bersifat katastropik, melumpuhkan sendi-sendi kehidupan ekonomi masyarakat yang mayoritas bergantung pada sektor agraris dan perdagangan. Kerusakan infrastruktur fisik memutus rantai pasok, sementara kerusakan lahan pertanian menghancurkan modal produksi masyarakat.

 

4.1 Valuasi Kerugian Sektor Publik dan Privat: Studi Kasus Agam

Data terperinci dari Kabupaten Agam, Sumatra Barat, memberikan gambaran mikro yang jelas mengenai besarnya kerugian ekonomi. BPBD Kabupaten Agam merilis estimasi kerugian sementara mencapai Rp 59,82 miliar, sebuah angka yang sangat besar bagi Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) tingkat kabupaten.

Tabel 2. Rincian Estimasi Kerugian Ekonomi di Kabupaten Agam

Sektor Deskripsi Kerusakan Estimasi Nilai Kerugian Implikasi
Pendidikan 88 unit bangunan sekolah rusak. Rp 3,08 Miliar Gangguan proses belajar mengajar jangka panjang; potensi lost generation.
Pertanian 829,81 hektare lahan sawah/ladang puso; 11 unit irigasi hancur. Rp 12,31 Miliar (termasuk ternak) Ancaman krisis pangan lokal; hilangnya mata pencaharian petani.
Peternakan 2.156 ekor ternak mati/hanyut. (Tergabung di atas) Hilangnya aset tabungan masyarakat pedesaan.
Perumahan 83 unit rusak berat, 50 sedang, 704 ringan. Rp 18,77 Miliar Krisis tempat tinggal; kebutuhan hunian sementara mendesak.
Infrastruktur Jalan (2.801 meter), 4 jembatan putus. Rp 24,23 Miliar Isolasi wilayah; biaya logistik meroket; hambatan evakuasi.
Perikanan Kematian bibit dan induk ikan; kerusakan kolam. Rp 1,41 Miliar Kerugian bagi pembudidaya ikan air tawar.
TOTAL Rp 59,82 Miliar

Sumber Data: Diolah dari laporan BPBD Kabupaten Agam 

 

4.2 Kelumpuhan Infrastruktur Strategis

Di luar kerugian aset langsung, kelumpuhan infrastruktur strategis memberikan efek domino yang memperparah situasi:

  • Akses Transportasi: Jalur vital Tarutung–Sibolga terputus total di beberapa titik akibat longsoran tebing. Hal ini mengisolasi Kota Sibolga dan Kabupaten Tapanuli Tengah dari jalur distribusi logistik utama lintas tengah Sumatra. Alat berat kesulitan menembus lokasi karena ketidakstabilan tanah yang masih terjadi.
  • Telekomunikasi: Sebanyak 707 Base Transceiver Station (BTS) mengalami down atau kerusakan akibat putusnya pasokan listrik dan kerusakan fisik menara. Hal ini menghambat koordinasi tim SAR dan menyebabkan kepanikan meluas karena warga tidak dapat mengabarkan kondisi mereka.
  • Jaringan Listrik: Kerusakan gardu dan tiang listrik menyebabkan pemadaman bergilir hingga total di wilayah terdampak parah, mengganggu operasional fasilitas kesehatan yang sedang menangani korban luka.

5. Analisis Akar Masalah: Perdebatan Antara Bencana Alam dan Ekologis

Salah satu diskursus paling tajam yang muncul pascabencana adalah mengenai penyebab utamanya. Apakah ini murni “murka alam” atau ada campur tangan kelalaian manusia?

 

5.1 Perspektif Pemerintah: Fokus pada Fenomena Alam

Narasi yang dibangun oleh instansi pemerintah seperti Kementerian ESDM dan BMKG cenderung menitikberatkan pada faktor alamiah. Mereka menekankan bahwa curah hujan yang dibawa oleh Siklon Senyar adalah kejadian ekstrem di luar kebiasaan (outlier). Selain itu, kondisi geologi Sumatra yang berada di zona patahan aktif dan memiliki topografi curam secara inheren membuatnya rentan terhadap gerakan tanah.

 

5.2 Kritik Walhi dan Aktivis: Bencana Ekologis Buatan Manusia

Sebaliknya, Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Sumatra Utara dan aktivis lingkungan lainnya menolak narasi “bencana alam murni”. Mereka berargumen bahwa hujan ekstrem hanyalah pemicu (trigger), namun penyebab fundamentalnya (underlying cause) adalah kerusakan ekologis yang masif, khususnya di Ekosistem Batang Toru.

Rianda Purba, Direktur Eksekutif Walhi Sumut, menunjukkan bukti lapangan berupa banyaknya gelondongan kayu besar (logs) yang hanyut bersama banjir bandang. Kayu-kayu ini memiliki potongan rapi, yang mengindikasikan adanya aktivitas penebangan liar (illegal logging) atau pembukaan lahan di hulu sungai, bukan sekadar pohon tumbang alami.

Walhi secara spesifik menyoroti peran tujuh perusahaan yang bergerak di sektor tambang, energi, dan perkebunan yang beroperasi di dalam dan sekitar kawasan hutan Batang Toru. Pembukaan lahan untuk proyek-proyek ini, termasuk proyek infrastruktur energi seperti PLTA, dituding telah mengurangi kapasitas hutan sebagai daerah tangkapan air (catchment area). Citra satelit yang dianalisis oleh aktivis menunjukkan adanya deforestasi signifikan di area hulu lokasi bencana, memperkuat argumen bahwa ini adalah bencana ekologis.

Pandangan kritis ini juga didukung oleh tokoh publik seperti Yudo Sadewa, yang secara vokal menyebut banjir ini sebagai akibat ulah manusia yang merusak hutan, menantang narasi defensif pemerintah.

6. Urgensi Tata Kelola Lingkungan: Peran Konsultan Lingkungan dan AMDAL

Bencana ini menjadi “lonceng peringatan” keras bagi tata kelola lingkungan di Indonesia. Kerusakan yang terjadi mencerminkan lemahnya instrumen pengendalian dampak lingkungan dalam proses pembangunan. Di sinilah peran dokumen AMDAL dan profesionalitas Konsultan Lingkungan menjadi sangat krusial.

 

6.1 Revitalisasi Fungsi AMDAL dan UKL-UPL

Dokumen Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) dan Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup dan Upaya Pemantauan Lingkungan Hidup (UKL-UPL) seringkali hanya dianggap sebagai formalitas administratif (“dokumen tebal di atas meja”) untuk mendapatkan izin usaha. Bencana Sumatra 2025 membuktikan bahwa pendekatan ini fatal.

Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia, merespons bencana ini dengan janji untuk memperketat proses AMDAL, terutama bagi sektor pertambangan dan perkebunan. Ia menegaskan perlunya jaminan reklamasi yang lebih besar dan pengawasan yang lebih ketat agar dokumen lingkungan benar-benar diimplementasikan di lapangan.

Regulasi terbaru tahun 2025 menuntut integrasi AMDAL dengan prinsip ESG (Environmental, Social, and Governance). Hal ini berarti kajian lingkungan tidak boleh hanya berhenti pada dampak bio-fisik, tetapi juga harus memproyeksikan risiko bencana (disaster risk assessment) terhadap masyarakat sekitar dalam skenario cuaca ekstrem.

 

6.2 Peran Vital Konsultan Lingkungan yang Kompeten

Kualitas dokumen AMDAL sangat bergantung pada kompetensi Konsultan Lingkungan yang menyusunnya. Banyak kasus kerusakan lingkungan bermula dari kajian yang tidak akurat, data baseline yang tidak valid, atau analisis risiko yang diremehkan demi meloloskan proyek.

Oleh karena itu, pemilihan Lembaga Penyedia Jasa Penyusun (LPJP) AMDAL yang tersertifikasi dan berpengalaman menjadi syarat mutlak dalam pembangunan yang berkelanjutan. Konsultan lingkungan harus berfungsi sebagai “penjaga gawang” kelestarian, memberikan analisis objektif apakah suatu proyek layak secara lingkungan atau tidak, terlepas dari tekanan ekonomi.

 

6.3 Studi Kasus Profil Profesional: PT Karsa Buana Lestari

Sebagai rujukan standar kualitas dalam industri konsultansi lingkungan, kita dapat melihat profil PT Karsa Buana Lestari. Perusahaan ini merepresentasikan jenis kompetensi teknis dan integritas yang dibutuhkan untuk mencegah terulangnya bencana ekologis seperti di Sumatra.

Berdasarkan data profil perusahaannya, PT Karsa Buana Lestari memiliki kualifikasi yang relevan dengan tantangan mitigasi bencana saat ini:

  • Pengalaman Ekstensif: Dengan pengalaman lebih dari 20 tahun dan portofolio lebih dari 5000 studi lingkungan, perusahaan ini memiliki tacit knowledge yang mendalam mengenai karakteristik lingkungan di Indonesia.
  • Sertifikasi Internasional: Kepemilikan sertifikasi ISO 9001:2015 (Manajemen Mutu), ISO 14001:2015 (Manajemen Lingkungan), ISO 37001:2016 (Sistem Manajemen Anti Penyuapan) dan dan ISO 45001:2018 (K3) menunjukkan bahwa proses kerja mereka terstandarisasi dan dapat dipertanggungjawabkan.
  • Pendekatan Multidisiplin: Bencana Sumatra menunjukkan bahwa masalah lingkungan saling kait-mengait (hidrologi, geologi, sosial). PT Karsa Buana Lestari, sebagai konsultan multidisiplin, mampu mengintegrasikan berbagai aspek ini dalam kajian mereka, mulai dari AMDAL, studi lalu lintas (ANDALALIN), hingga audit lingkungan.
  • Dukungan Laboratorium: Keberadaan laboratorium lingkungan internal memastikan bahwa data kualitas air, tanah, dan udara yang digunakan dalam kajian adalah data primer yang akurat, bukan data sekunder yang kedaluwarsa.
  • Visi Keberlanjutan: Dengan visi “Leading the Way in Sustainable Excellence,” perusahaan ini menempatkan dirinya sebagai mitra pembangunan yang tidak hanya mengejar revenue, tetapi juga kelestarian fungsi lingkungan hidup.

Keberadaan konsultan dengan kaliber seperti PT Karsa Buana Lestari menjadi tolok ukur bagi industri. Pemerintah dan sektor swasta harus memprioritaskan penggunaan jasa konsultan yang memiliki rekam jejak teruji untuk memastikan setiap proyek pembangunan di Sumatra ke depan telah melalui uji kelayakan lingkungan yang ketat.

7. Rekomendasi Strategis dan Langkah Pemulihan

Untuk memutus siklus bencana di Sumatra, diperlukan langkah-langkah radikal yang melampaui sekadar tanggap darurat. Berikut adalah rekomendasi berbasis data dan analisis situasi:

7.1 Jangka Pendek: Penanganan Pengungsi dan Pemulihan Akses

  1. Manajemen Pengungsian Humanis: Prioritaskan kebutuhan spesifik kelompok rentan (anak-anak, lansia, wanita hamil) di pengungsian. Trauma healing harus segera dilakukan mengingat tingginya dampak psikologis bencana.
  2. Pembukaan Akses Logistik: Percepatan perbaikan jembatan darurat (bailey) di jalur Tarutung-Sibolga dan Agam untuk memulihkan aliran logistik dan ekonomi.

7.2 Jangka Menengah: Audit Lingkungan dan Penegakan Hukum

  1. Audit Investigatif Ekosistem Batang Toru: Pemerintah harus membentuk tim independen yang melibatkan akademisi, Walhi, dan konsultan lingkungan profesional untuk mengaudit seluruh izin konsesi di kawasan ini.
  2. Penegakan Hukum Tegas: Jika ditemukan bukti illegal logging atau pelanggaran izin lingkungan oleh korporasi (seperti temuan kayu log di lokasi banjir), izin usaha harus dibekukan dan proses pidana lingkungan harus dijalankan.

7.3 Jangka Panjang: Reformasi Tata Ruang dan Standarisasi Konsultan

  1. Revisi RTRW Berbasis Mitigasi: Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Provinsi Aceh, Sumut, dan Sumbar harus direvisi dengan memasukkan peta risiko bencana terbaru. Kawasan zona merah longsor harus ditetapkan sebagai zona lindung mutlak.
  2. Mandatory Certification for Consultants: Mewajibkan seluruh proyek strategis di wilayah rawan bencana untuk menggunakan Konsultan Lingkungan dengan kualifikasi Grade A (seperti standar yang dimiliki PT Karsa Buana Lestari dan sejenisnya) untuk menjamin kualitas kajian risiko.
  3. Penerapan “Green Infrastructure”: Pembangunan infrastruktur di masa depan harus menerapkan konsep eco-road dan drainase berkapasitas tinggi yang mampu mengakomodasi curah hujan ekstrem akibat perubahan iklim.

8. Kesimpulan

Banjir dan longsor besar di Sumatra pada akhir November 2025 adalah sebuah tragedi kemanusiaan yang mengungkap kerapuhan hubungan antara manusia dan alam. Dengan 442 nyawa melayang dan kerugian ratusan miliar rupiah, peristiwa ini tidak bisa hanya dianggap sebagai takdir. Ia adalah akumulasi dari krisis iklim global yang bertemu dengan degradasi lingkungan lokal dan kelemahan tata kelola ruang.

Masyarakat lokal, mulai dari petani di Agam hingga warga kota di Sibolga, menanggung beban terberat dari kerusakan ini. Pemulihan mereka menuntut lebih dari sekadar bantuan pangan; mereka menuntut rasa aman dari bencana serupa di masa depan. Rasa aman ini hanya bisa diwujudkan jika pemerintah berani melakukan koreksi total terhadap kebijakan pengelolaan sumber daya alam.

Penguatan peran instrumen lingkungan seperti AMDAL dan pelibatan Konsultan Lingkungan yang kredibel seperti PT Karsa Buana Lestari bukan lagi pilihan, melainkan keharusan. Hanya dengan menempatkan sains dan keberlanjutan lingkungan sebagai panglima pembangunan, Sumatra dapat kembali menjadi “Pulau Emas” yang menyejahterakan, bukan pulau yang mendatangkan duka bagi penghuninya.

Laporan ini disusun sebagai respons analitis terhadap bencana Sumatra November 2025, dengan harapan menjadi referensi bagi pemangku kepentingan dalam merumuskan kebijakan mitigasi yang lebih baik.

Karya yang dikutip

  1. Update Terkini Jumlah Korban Meninggal Akibat Banjir di Sumatera, diakses Desember 1, 2025, https://tirto.id/update-terkini-jumlah-korban-meninggal-akibat-banjir-di-sumatera-hmTB
  2. Beda Pendapat Anak Menteri Purbaya dan ESDM-BMKG soal …, diakses Desember 1, 2025, https://www.tribunnews.com/regional/7761133/beda-pendapat-anak-menteri-purbaya-dan-esdm-bmkg-soal-penyebab-banjir-dan-longsor-di-sumatra
  3. Banjir dan Longsor di Sumatra: 442 Orang Meninggal, 402 Masih …, diakses Desember 1, 2025, https://timesindonesia.co.id/peristiwa-nasional/567330/banjir-dan-longsor-di-sumatra-442-orang-meninggal-402-masih-hilang
  4. Update BNPB: Korban Tewas Bencana Sumatera Jadi 442 Orang, diakses Desember 1, 2025, https://www.tempo.co/politik/update-bnpb-korban-tewas-bencana-sumatera-jadi-442-orang-2094572
  5. Korban Tewas Banjir Sumatra Terus Bertambah: Tembus 442 Jiwa, Ribuan Warga Mengungsi, diakses Desember 1, 2025, https://ulasan.co/korban-tewas-banjir-sumatra-terus-bertambah-tembus-442-jiwa-ribuan-warga-mengungsi/
  6. Kerugian bencana hidrometeorologi di Agam capai Rp 59,82 miliar …, diakses Desember 1, 2025, https://sumbar.antaranews.com/berita/730741/kerugian-bencana-hidrometeorologi-di-agam-capai-rp-5982-miliar
  7. Korban Tewas Banjir Sumut, Sumbar dan Aceh Tembus 442 Orang, diakses Desember 1, 2025, https://www.cnnindonesia.com/nasional/20251201070050-20-1301251/korban-tewas-banjir-sumut-sumbar-dan-aceh-tembus-442-orang
  8. Kisah Heroik Wali Kota Sibolga Ahmad Syukri: Nekat Jalan Kaki 4 …, diakses Desember 1, 2025, https://www.suara.com/news/2025/11/29/144906/kisah-heroik-wali-kota-sibolga-ahmad-syukri-nekat-jalan-kaki-4-hari-di-tengah-longsor
  9. Cerita Warga Tapanuli Tengah Putus Kontak dengan Keluarga yang …, diakses Desember 1, 2025, https://www.tempo.co/politik/cerita-warga-tapanuli-tengah-putus-kontak-dengan-keluarga-yang-jadi-korban-banjir-2093925
  10. Banjir dan Longsor Parah Melanda Sumatera Akhir November 2025, Ribuan Warga Mengungsi – Kabar Cirebon, diakses Desember 1, 2025, https://kabarcirebon.pikiran-rakyat.com/nasional/pr-2939830421/banjir-dan-longsor-parah-melanda-sumatera-akhir-november-2025-ribuan-warga-mengungsi
  11. BNPB Ungkap Data Terbaru Pengungsi Korban Banjir-Longsor Sumut, Ini Daftarnya, diakses Desember 1, 2025, https://news.detik.com/berita/d-8235084/bnpb-ungkap-data-terbaru-pengungsi-korban-banjir-longsor-sumut-ini-daftarnya/amp
  12. Banjir Sumatera 2025: Pemerintah Ungkap Faktor Penyebab Utama – garuda tv, diakses Desember 1, 2025, https://garuda.tv/banjir-sumatera-2025-pemerintah-ungkap-faktor-penyebab-utama/
  13. Kerusakan Ekosistem Batang Toru Perparah Banjir dan Longsor – Mongabay, diakses Desember 1, 2025, https://mongabay.co.id/2025/11/28/kerusakan-ekosistem-batang-toru-perparah-banjir-dan-longsor/
  14. Walhi: Kerusakan Hutan Batang Toru Jadi Pemicu Banjir & Longsor …, diakses Desember 1, 2025, https://www.cnnindonesia.com/nasional/20251128154721-20-1300568/walhi-kerusakan-hutan-batang-toru-jadi-pemicu-banjir-longsor-sumut
  15. Banjir Besar di Sumatera Sebabkan Banyak Korban, Kementerian ESDM Perketat Amdal Segera – Qoo10.co.id, diakses Desember 1, 2025, https://www.qoo10.co.id/bisnis/101468/banjir-besar-di-sumatera-sebabkan-banyak-korban-kementerian-esdm-perketat-amdal-segera/
  16. PT Karsa Buana Lestari: Konsultan Multidisiplin & Laboratorium Lingkungan Terbaik, diakses Desember 1, 2025, https://karsabuanalestari.com/
  17. PT Karsa Buana Lestari Karir & Profil Terbaru 2025 – Glints, diakses Desember 1, 2025, https://glints.com/id/companies/pt-karsa-buana-lestari/381b9d6c-9f61-41b9-a27b-238b5f3b9898
  18. About Us – PT Karsa Buana Lestari, diakses Desember 1, 2025, https://karsabuanalestari.com/about-us/